Selasa, 07 Mei 2013

Etika Profesi Sekretaris



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Di era modernisasi ini, profesi sebagai seorang sekretaris masih saja dianggap sebelah mata dan menjadi bahan pergunjingan baik didalam maupun diluar lingkungan kantor. Hal ini mungkin terpengaruh dari gambaran sosok sekretaris yang identik dengan perempuan, rok mini, dan pemikiran akan adanya hubungan intim dengan pimpinannya.
Saat ini pun juga sudah banyak bermunculan sekretaris pria yang membuktikan bahwa menjadi sekretaris bukanlah hal yang mudah. Bahkan, seiring dengan semakin berkembangnya sektor usaha diberbagai bidang, sebuah perusahaan yang cukup mapan pasti menuntut adanya sekretaris yang memiliki keprofesionalan yang matang, sehingga diharapkan dapat menyelesaikan tugas – tugasnya dengan baik.
Seorang sekretaris yang profesional harus kode etik profesi yang harus selalu diterapkan didalam kantor maupun di kehidupan masyarakat. Kode etik profesi ini dibuat agar dapat mengatur sekretaris dalam menjalankan profesi serta kaidah – kaidah standar moral yang sangat tinggi pada setiap profesi.
Profesi adalah suatu hal yang harus dibarengi dengan keahlian dan etika. Meskipun sudah ada aturan yang mengatur tentang kode etik profesi, namun seperti kita lihat saat ini masih sangat banyak terjadi pelanggaran – pelanggaran ataupun penyalahgunaan profesi.
Maka dari itu penulis akan membahas bagaimana menjadi seorang profesi yang baik dalam menjalankan profesinya agar sosok sekretaris tidak lagi dianggap remeh oleh masyarakat.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian dari etika, profesi, dan kode etik?
2.      Apa saja landasan – landasan etika?
3.      Seperti apa kode etik sekretaris menurut Ikatan Sekretaris Indonesia?
4.      Bagaimana etika di dalam kantor?
5.      Seperti apa etika ditempat kerja?
6.      Apa saja tugas dan tanggung jawab seorang sekretaris?

C.    TUJUAN
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Etika Profesi Sekretaris. Selain itu agar para sekretaris dapat menjalankan profesinya dengan baik sesuai dengan Kode Etik Sekretaris.

D.    MANFAAT
Dengan adanya makalah ini diharapkan para dapat memberikan sesuatu yang baik terhadap pembaca dan seorang sekretaris mengenai Kode Etik Sekretaris serta menambah wawasan agar lebih mengetahui bagaimana cara agar menjadi sekretaris yang profesional.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN ETIKA, PROFESI, DAN KODE ETIK
1.      ETIKA
Etika berasal dari bahasa Yunani Ethos, yang berati norma – norma, nilai – nilai, kaidah – kaidah dan ukuran – ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik. Etika berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu atau masyarakat untuk menilai apakah tindakan – tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, baik atau buruk.
Drs. O. P. Simorangkir menjelaskan etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berperilaku menurut ukuran dan nilai yang baik. Dan Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat, etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal. Kemudian pengertian etika menurut Drs. H. Burhanudin Salam adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma – norma yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.
a.       Etika Umum
Berbicara megenai kondisi – kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori – teori etika dan prinsip – prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat dianalogkan dengan ilmu pengetahuan yang membahas mengenai pengertian umum dan teori – teori.
b.      Etika Khusus
Mengenai penerapan prinsip – prinsip moral dasar dalam berbagai bidang kehidupan yang khusus.
2.      PROFESI
Etika profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai. Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan dan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek.
Kita tidak hanya mengenal istilah profesi untuk bidang – bidang pekerjaan seperti kedokteran, guru, militer, pengacara, dan semacamnya. Tetapi meluas sampai mencakup pula bidang seperti manajer, wartawan, pelukis, penyanyi, artis, sekretaris dan sebagainya. Sejalan dengan itu, menurut DE GEORGE, timbul kebingungan mengenai pengertian profesi itu sendiri, sehubungan dengan istilah profesi dan profesional. Kebingungan ini timbul karena banyak orang yang profesional tidak atau velum tantu termasuk dalam pengertian profesi.
3.      KODE ETIK
Kode yaitu tanda – tanda atau simbol – simbol yang berupa kata – kata, tulisan atau benda yang disepakati untuk maksud – maksud tertentu, misalnya untuk menjamin suatu berita, keputusan atau suatu kesepakatan suatu organisasi. Kode juga dapat berarti kumpulan peraturan yang sistematis. Kode etik dapat diartikan pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan atau tata cara sebagai pedoman berperilaku.
Dalam kaitannya dengan profesi, bahwa kode etik merupakan tata cara atau aturan yang menjadi standar kegiatan anggota suatu profesi. Suatu kode etik menggambarkan nilai – nilai profesional suatu profesi yang diterjemahkan kedalam standar perilaku anggotanya. Nilai profesional paling utama adalah keinginan untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat.

B.     LANDASAN ETIKA
1.      Naturalisme, bahwa sistem – sistem etika dalam kesusilaan mempunyai dasar alami, yaitu bahwa pembenaran hanya dapat dilakukan melalui pengkajian atas fakta. Bahwa manusia pada dasarnya baik.
2.      Individualisme, setiap orang bertanggungjawab sacara individual bagi dirinya sendiri. Interaksi dalam masyarakat dilakukan demi keuntungan induvidunya masing – masing.
3.      Hedonisme, manusia selalu mengusahakan kenikmatan.
4.      Eudaemonisme, manusia berorientasi pada kebahagiaan.
5.      Utilitarianisme, bahwa ciri pengenal kesusilaan adalah manfaat suatu perbuatan.
6.      Idealisme, manusia terdiri dari jasmani dan rohani. Idealisme rasionalistik, bahwa menggunakan pikiran dan akal manusia dapat mengenal norma – norma yang menuntun perilakunya. Idealisme estetik, pandangan bahwa dunia serta kehidupan manusia dapat dilihat dari perspektif karya seni. Idealisme etik, pada intinya ingin menentukan ukuran – ukuran moral dan kesusilaan terhadap dunia dan manusia.

C.    KODE ETIK SEKRETARIS MENURUT IKATAN SEKRETARIS INDONESIA
1.      Menjunjung tinggi kehormatan, kemuliaan nama baik profsi seretaris.
a.       Anggota ISI akan berusaha keras untuk menjaga wibawa dan status serta menunjukkan kemampuannya dengan berpegang pada pedoman dasar profesi dalam melaksanakan tugas.
b.      Anggota ISI wajib untuk saling mengingatkan akan tingkah laku yang tidak beretika.
c.       Anggota ISI tidak mengadakan kegiatan – kegiatan yang langsung dan tidak langsung merugikan ISI
2.      Bertindak jujur dan sopan dalam setiap langkah lakunya baik dalam melaksanakan tugasnya maupun melayani lingkungan dan masyarakat.
a.       Anggota ISI tidak ikut serta dalam usaha / praktek keprofesionalan yang diketahui bersifat curang / tidak jujur.
b.      Anggota ISI selalu bertindak demi kepentingan pemberi tugas dengan setia dan jujur.
c.       Anggota ISI tidak bekerja sama denga rekan – rekan / pemberi tugas yang menyalahgunakan kedudukan mereka untuk kepentingan pribadi.
3.      Menjaga kerahasiaan segala informasi yang didapatnya dalam melaksanakan tugas dan tidak mempergunakan kerahasiaan itu untuk kepentingan pribadi.
a.       Anggota ISI bertindak sebagai orang yang dapat dipercaya dalam hubungan profesional, melaksanakan tanggung jawabnya dengan cara yang paling kompeten dan menerapkan pengetahuan dan keterampilannya untuk kepentingan kerja.
b.      Anggota ISI tidka menggunakan dengan cara apapun kerahasiaan informasi yang didapatnya yang dapat menimbulkan pertentangan bagi perusahaan dimana ia bekerja / ditempat kerja yang telah ditinggalkannya.
4.      Meningkatkan mutu profesi melalui pendidikan / melalui kerjasama rekan – rekan seprofesi baik pada tingkat nasional / internasional.
a.       Tukar menukar pengetahuan dalam bidang keahliannya pada tingakat nasional maupun internasional secara wajar dengan rekan – rekan ISI dan kelompok profesi lain serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap profesi sekretaris.
b.      Anggota ISI saling memberi nasihat, dorongan dan bimbingan kepada sesama anggota jika dimintai kalau permasalahannya berada dalam pengetahuan dan pengalamannya.
c.       Menyelenggarakan seminar / diskusi, panel, diskusi dan ceramah dengan rekan – rekan seprofesi secara bebas mengenai maslaah – masalah yang bertalian dengan praktek – praktek kesekretarisan.
5.      Menghormati dan menghargai reputasi rekan seprofesi baik didalam maupun di luar negeri.
a.       Anggota ISI memberikan bantuan dalam praktek kesekretariatan kepada rekan baik didalam / di luar negeri jika diminta.
b.      Anggota ISI tidak berbuat sesuatu dengan sengaja / tidka sengaja yang merugikan nama baik sesama rekan ISI maupun rekan seprofesi di luar negeri.

D.    ETIKA DALAM KANTOR
Skill kita dalam human relation, sikap pribadi kita dalam mempertimbangkan sesuatu atau tindak tanduk, akan tercermin dalam hal – hal yang kelihatannya sepele dari apa yang kita kerjakan dan katakan, misalnya seperti beberapa hal yang perlu ditunjukkan dalam kantor:
1.      Perkenalan
Perkenalkan diri kita kepada rekan yang baru dengan senyum bersahabat dan sikap ramah. Apabila ketika kita ingin memperkenalkan orang, bertindaklah dengan cepat dan efisien, sehingga memnuat orang lain merasa senang.
2.      Ucapan Salam
Salam “Selamat Pagi” yang cerah dan gembira adalah salah satu ciri sifat kermaah tamahan kita. Teman sekerja, para pelanggan dan para tamu senang memperoleh penentraman diri sebelum terjun kebidang pekerjaan masing – masing. Beberapa menit yang dibuang untuk sekedar berpamitan dengan perasaan gembira, adalah sebagai publik relation yang lebih baik daripada tergopoh – gopoh pergi tanpa pamit.
3.      Urusan – Urusan Pribadi
Orang yang bijaksana tentu tidak akan membosankan atau mengganggu orang lain dengan cerita – cerita tentang masalah pribadinya atau menyombongkan diri dengan prestasi yang telah dicapainya. Tetapi persahabatan disuatu kantor akan membantu suasana dan kondisi kerja yang harmonis. Menurut peraturan yang berlaku, bahwa business dan kesenangan tidak bisa dicampur adukkan. Namun peraturan yang baik adalah sikap bersahabat di dalam kerja, tetapi harus kenghindarkan diri dari hubungan yang begitu erat sehingga nantinya dapat mengganggu pekerjaan dan menghalangi kesempatan promosi kita.
4.      Loyalitas
Sebagai pegawai yang loyal sudah tentu kita tidak akan mencari keuntungan pribadi dengan biaya kelompok. Kita akan menghindarkan diri dari perdebatan – perdebatan yang tak berarti selama bekerja. Juga harus diingat bahwa yang suka membuat gosip tidak akan mempunyai kawan. Jangan menceritakan yang tidak – tidak tentang rekan – rekan sekerja kita. Janganlah suka mengkritik pekerjaan mereka. Hormatilah hak mereka untuk menikmati kehidupan pribadi mereka sendiri.
5.      Menjaga / Pandai Menyimpan Rahasia
Loyalitas kita yang pertama adalah untuk pimpinan dan perusahaan. Berusahlah untuk dapat menyimpan / memegang teguh rahasia yang tidak boleh diketahui umum.
6.      Ikut Memikirkan Orang Lain
Ucapan “silahkan” dan “terima kasih”, kartu ulang tahun yang tak disangka – sangka, ucapan – ucapan selamat ulang tahun, dan pesan – pesan penuh simpati, adalah beberpaa contoh dari sekian banyak ucapan yang mengundang simpati orang lain. Bila kita menganggap diri kita sebagai orang yang bijaksana makan bukannya kata – kata “untuk – untuk” saja yang perlu kita sampaikan, tetapi berupa tindakan atau bantuan yang diberikan kepada orang lain.
7.      Sukses Bergaul dengan Rekan Sekantor
Jelas bukan suatu usaha / pekerjaan yang mudah untuk memperoleh simpati dan respek dari rekan kerja. Kita harus menerapkan semua anjuran – anjuran yang dikemukakan sendiri, ditambha lagi dengan banyak hal yang akan kita jumpai melalui pengalaman. Ingat bahwa permulaan yang baik adalah sebagai anak tangga pertama yang kita injak untuk dapat menginjak anak tangga selanjutnya. Sampai sejauh mana kita berhasil, akan banyak ditentukan oleh sampai mana perkembangan skill kita dalam huma relation.

Hal – hal yang perlu dihindari didalam kantor:
1.      Membentuk klik (kumpulan / golongan) yang secara sadar membelakangi rekan – rekan baru, artinya segolongan yang membela kepentingan mereka sendiri.
2.      Tidak masuk kantor dengan alasan “sakit” padahal hanya ingin bermalas – malasan saja dirumah.
3.      Bergegas – gegas pulang pada waktu tutup kantor, sedangkan selalu datang terlambat.
4.      Sering memakai telepon atau fasilitas kantor untuk urusan pribadi.
5.      Pulang sebelum waktunya, karena kebetulan saat itu pimpinan tidak sedang berada dikantor.
6.      Tempat kerja selalu dimanfaatkan untuk mengobrol.
7.      Bersikap menjilat pimpinan dan mendepak bawahan.
8.      Selalu menunda – nunda pekerjaan yang seharusnya segera dapat diselesaikan.
9.      Boros dalam memakai alat – alat kantor.
10.  Segan merawat mesin atau alat kantor yang dipercayakan kepada kita.
11.  Melakukan hal – hal yang tidak termasuk tugas kantor, seperti mengisi teka teki silang, menulis surat pribadi, bertamu kebagian lain tanpa suatu urusan.
12.  Bersikap acuh tak acuh terhadap publik.

E.     ETIKA DITEMPAT KERJA
1.         Etika Kerja
a.       Datang tepat waktu
b.      Memberikan kabar jika terlambat
c.       Penggunaan waktu kerja yang efisien (ngerumpi, berkunjung kebagian lain, menerima tamu pribadi,baca koran tidak terkait dengan pekerjaan)
d.      Melakukan bisnis dalam kantor
e.       Menerima order bukan atas nama kantor
f.       Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
2.         Etika Antar Teman Kerja
a.       Menghargai antar rekan
b.      Tidak menyombongkan diri sendiri
c.       Tidak menceritakan prestasi yang dimiliki
d.      Tidak menjatuhkan rekan
e.       Mendengar pendapat dari rekan lain
f.       Tidak membicarakan rekan kerja
3.         Etika dengan Atasan
a.       Menghormati kekuasaan / jabatan atasan
b.      Berperilaku sopan
c.       Sikap antusias, sungguh – sunguh dalam menjaga rahasia atasan
d.      Cepat dan tanggap dalam bertindak
e.       Jangan menjilat atasan
f.       Tidak boleh mencampuri urusan pribadi atasan
g.      Hindari pertengakaran / perdebatan dengan atasan
4.         Etika dengan Bawahan
a.       Bisa menjadi teladan
b.      Membangun kepercayaan bawahan
c.       Hindari marah kepada bawahan
d.      Hindari mengkritik bawahan ditempat umum
e.       Bersikap terbuka dan netral
f.       Jangan mengkambinghitamkan bawahan
g.      Luangkan waktu untuk kegiatan sosial dengan bawahan
5.         Etika Ketika Berbincang – Bincang
a.       Hindari hal yang merendahkan martabat
b.      Jangan memancing perdebatan
c.       Jangan memotong pembicaraan
d.      Jangan berlagak sok tahu
e.       Berbicara melihat yang sedang diajak berbicara
f.       Hindari terlalu dekat dengan lawan bicara
g.      Jangan membocorkan rahasia
h.      Perhatikan lingkungan dan kondisi yang diajak berbicara
i.        Jangan menonjolkan kelebihan kita
j.        Hidari bergosip
k.      Jangan membicarakan masalah keluarga dengan orang lain
l.        Gunakan bahasa yang umum baik dan benar
m.    Hindari tindakan yang merusak suasana
6.         Etika Menerima Tamu
a.       Ucapkan salam
b.      Buka jendela ketika ruangan tertutup
c.       Tempatkan tamu diposisi sebelah kanan
d.      Hindari ungkapan bernada sombong
e.       Berilah isyarat verbal untuk mengakhiri pembicaraan
f.       Ucapkan terima kasih
7.         Etiket Bekerja
a.       Datang tepat waktu, bekerja tepat waktu
b.      Hindari kebiasaan bertandang ke bagian / unit lain
c.       Hindari ngerumpi, mangkir, bolos, mengerjakan pekerjaan pribadi, telepon pribadi, selalu baca koran
d.      Perlu pengembangan pribadi guna menambang kreativitas
e.       Menjaga semangat kerja dan selau antusias dalam hal apa pun
8.         Etiket Penjamuan Makan
a.       Hidari suara penjiplak
b.      Jangan membiarkan mulut penuh terisi oleh makanan
c.       Usahakan untuk tidak berbicara ketika sedang mengunyah
d.      Mengambil makan secukupnya
e.       Jangan menimbulkan bunyi sendok atau piring
f.       Jangan membuka mulu terlalu besar
g.      Ketika makan, bukan mulut yang menuju makanan tetapi sendok yang menuju ke mulu kita
9.         Etiket Berpenampilan
a.       Memakai baju seragam
b.      Jaga keserasian berbusana
c.       Berpakaian dengan jeans, sandal dan kaos tidak lazim dan tidak sopan
d.      Hindari berbusana yang terlalu sempit
e.       Make up wanita tidak mencolok / harus natural
f.       Jika memakai parfum, pilih aroma yang soft atau tidak menyengat aromanya
g.      Menggunakan asesoris sesuaikan dengan warna pakaian dan tidak boleh berlebihan
h.      Lengan baju tidak boleh dilipat, rambu ditata rapi dan usahakan memakai ikat pinggang
10.     Etiket Menggunakan Fasilitas Kantor
a.       Perencanaan dan kebutuhan kantor didasarkan pertimbangan obyektif
b.      Hindari meminta komisi
c.       Serahkan komisi dan sejenisnya pada organisasi
d.      Melakukan interventarisasi dan pengecekan fasilitas kantor
e.       Hindari pemborosan dalam pemakaian
f.       Penghapusan kantor secara obyektif
g.      Gunakan fasilitas kantor sesuai dengan fungsinya

F.     TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB SEKRETARIS
Pada dasarnya tanggung jawab seorang seretaris adalah sama yaitu membantu tugas – tugas pimpinan, baik wanita maupun pria, tidak ada perbedaan diantara keduanya. Tugas dari seorang sekretaris dapat dikelompokkan menjadi 8 macam sebagai berikut:
1.      Tugas – Tugas Rutin
Yaitu tugas – tugas yang harus diselesaikan setiap harinya tanpa menunggu perintah, perhatian khusus maupun pengawasan khusus, diantaranya adalah membuka surat – surat yang masuk, menerima tamu, menyimpan surat / arsip, menangani telepon, menyusun dan membuat jadwal pimpinan.
2.      Tugas – Tugas Khusus
Yaitu tugas – tugas dari pimpinan yang membutuhkan penyelesaian secara khusus dengan dimintai pendapat, pertimbangan, dan pengalamannya. Tugas tersebut biasanya diberikan karena ada unsur kepercayaan bahwa sekretaris dapat menyimpan keharasiaan tugas. Semisal membuat konsep surat perjanjian antara perusahaan dengan rekanan, menyusun surat – surat rahasia, menyusun acara pertemuan bisnis, pembelian cindera mata, mengurus perjalanan dinas pimpinan dan sebagainya.
3.      Tugas – Tugas Istimewa
Yaitu tugas yang menyangkut keperluan pimpinan, diantaranya:
a.       Membetulkan letak alat tulis pimpinan beserta perlengkapan yang diperlukan
b.      Bertindak sebagai penghubung untuk meneruskan informasi kepada relasinya
c.       Bersama – sama atau mewakili seseorang menerima sumbangan – sumbangan untuk dana atau keperluan kegiatan lain
d.      Mengingatkan pimpinan untuk membayar iuran atau asuransi dari suatu badan
e.       Menghadiri rapat – rapat dinas, sebagai pedamping selama mengadakan pertemuan bisnis
f.       Mengadakan pemeriksaan perlatan kantor yang perlu diperbaiki atau penambahan alat – alat dan sarana kantor
4.      Tugas Resepsionis
Yaitu sebagai penerima tamu, antara lain:
a.       Menangani telepon serta mencatat pesan – pesan lewat telepon
b.      Menerima tamu yang akan bertemu dengan pimpinan
c.       Mencatat janji –janji untuk pimpinan
d.      Menyusun kerja sehari – hari pimpinan
5.      Tugas Keuangan
Yaitu tugas mengelola keuangan, meliputi:
a.       Menangani urusan keuangan pimpinan dengan bank
b.      Membayar rekening – rekening pajak, sumbangan dana atas nama pimpinan
c.       Mengurus kas kecil, yaitu mencatat dan menyediakan dana untuk pengeluaran rutin sehari – hari yang jumlahnya relatif kecil
6.      Tugas Sosial
Yaitu tugas amal atau kemasyarakatan, antara lain:
a.       Mengurus rumah tangga kantor pimpinan
b.      Mengatur penyelenggaraan resepsi untuk kantor beserta pengurusan undangan
c.       Menyumbang untuk amal
7.      Tugas Insidental
Yaitu tugas yang dilaksanakan pada waktu dan keadaan tertentu, antara lain:
a.       Menyiapkan agenda rapat, meyiapkan laporan, pidato atau pernyataan pimpinan
b.      Membuka ikhtisar dari berita atau karangan yang termuat dalam surat kabar, majalah, brosur yang ada kaitannya dengan perusahaan
c.       Mengoreksi bahan – bahan cetakan seperti brosur, undangan, prospectus, formulir dan datar yang di konsep pimpinan
d.      Mewakili pimpinan dalam berbagai resepsi atau pertemuan
e.       Membantu penerbitan intern organisasi
8.      Tugas Sekretaris dalam Business Meeting
Yaitu tugas sekretaris dalam mengorganisir suatu pertemuan bisnis.
Sedangkan tanggung jawab sekretaris adalah sebagai berikut:
1.      Seorang sekretaris harus mempunyai komitmen terhadapa pencapaian superioritas kinerja kantor dan pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan
2.      Seorang sekretaris harus berusaha untuk terus meningkatkan pengetahuan, meluaskan wawasan dan jalinan perusahaan
3.      Seorang sekretaris harus bertanggung jawab atas berhasilnya perusahaan tempat ia bekerja
4.      Sekretaris sebagai perantara pimpinan dalam transaksi

BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Dengan membuat kode etik, profesi sendiri akan menetapkan hitam atas putih niatnya untuk mewujudkan nilai – nilai moral yang dianggapnya hakiki. Hal ini tidak akan pernah bisa dipaksakan dari luar. Hanya kode etik yang berisikan nilai – nilai dan cita – cita yang diterima oleh profesi itu sendiri yang bisa mendarah daging dengannya dan menjadi tumpuan harapan untuk dilaksanakan dengan tekun dan konsekuen. Syarat lain yang harus dipenuhi agar kode etik dapat berhasil dengan baik adalah bahwa pelaksanaannya diawasi terus menerus.
Sekretaris dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab harus didasari oleh kode etik. Ini semua agar seorang sekretaris tetep menjalankannya sesuai dengan kaidah atau aturan yang telah ditetapkan oleh Ikatan Sekretaris Indonesia yang diharapkannya agar kedepan sekretaris yang profesional dapat menjadi suatu contoh yang baik bagi bawahannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar